Aku percaya atas pagi yang akan
selalu terlukis esok, kepedihan yang datang bersama waktu akan segera terganti,
anugerah sang maha segalanya akan memberkati semesta lewat sinar-sinar yang
menembus awan dan jatuh di tanah.
Sederetan kisah yang lalu perlahan
mulai pulang, mereka kembali ke tempat asalnya dan mencari kanvas baru untuk
melukiskan hal yang sama, karena kanvas terakhir yang mereka tinggalkan sudah
penuh dengan warna, visi yang kuat, dan temanya sudah tak mampu mereka ikuti.
Langkahku perlahan mulai
menanjak, kakiku mulai terasa berat menopang mimpi yang bersama kuajak naik,
mimpi yang menemaniku di setiap saat, mimpi yang bahkan dia tau segalanya
tentang diriku, karena mimpi itu adalah aku sendiri.
Sosok yang selalu ingin berbeda menuntunku
untuk agar tetap tenang, ia tak pernah mengajariku agar menjadi seperti orang
lain, itulah yang membuatku senang melihat manusia diselilingku tersenyum. Aku
meyakini, apa yang kita cari itu berbeda.
Air mengalir, angin berhembus dan
cahaya menerangi.
Mereka melakukan hal yang sudah
menjadi takdirnya, tak mengganggu satu sama lain, tak berusaha mendahului satu
sama lain, hanya sedikit sentuhan untuk saling bertegur sapa.
No comments:
Post a Comment