Sunday, March 19, 2017

Mimpiku Bicara

Aku percaya atas pagi yang akan selalu terlukis esok, kepedihan yang datang bersama waktu akan segera terganti, anugerah sang maha segalanya akan memberkati semesta lewat sinar-sinar yang menembus awan dan jatuh di tanah.

Sederetan kisah yang lalu perlahan mulai pulang, mereka kembali ke tempat asalnya dan mencari kanvas baru untuk melukiskan hal yang sama, karena kanvas terakhir yang mereka tinggalkan sudah penuh dengan warna, visi yang kuat, dan temanya sudah tak mampu mereka ikuti.

Langkahku perlahan mulai menanjak, kakiku mulai terasa berat menopang mimpi yang bersama kuajak naik, mimpi yang menemaniku di setiap saat, mimpi yang bahkan dia tau segalanya tentang diriku, karena mimpi itu adalah aku sendiri.

Sosok yang selalu ingin berbeda menuntunku untuk agar tetap tenang, ia tak pernah mengajariku agar menjadi seperti orang lain, itulah yang membuatku senang melihat manusia diselilingku tersenyum. Aku meyakini, apa yang kita cari itu berbeda.

Air mengalir, angin berhembus dan cahaya menerangi.

Mereka melakukan hal yang sudah menjadi takdirnya, tak mengganggu satu sama lain, tak berusaha mendahului satu sama lain, hanya sedikit sentuhan untuk saling bertegur sapa. 

Kilatan amarah berusaha mengagetkan, ia mencoba mengingatkanku untuk selalu tetap bodoh, dan agar diriku terus mencari sajak – sajak surga yang seharusnya dipahami hati dan pikiranku.